Minggu, 20 November 2011


MUTIARA DI CANGKANG KERANG PLPG

Entah kenapa? pagi itu 15 Nopember 2011 di taman wisma Kinasih seusai sarapan pagi, tiba-tiba saya menjadi "cengeng". Saya benar-benar tak kuasa menahan air mata. Ada asa yang menyelinap diam-diam di kedalaman lubuk hati, semoga ini adalah air mata yang dapat memadamkan jilatan api neraka karena Yang Maha Menatap Ridho atasnya. Bukan air mata buaya yang mengalir karena sejumput kepentingan dunia.
"Saya tidak takjub kepada seseorang yang sukses dalam karir duniawi, sementara mereka melupakan akhiratnya", demikian kang Nasyit, "Primus" kami yang dipercaya jadi km kelas matematika PLPG angkatan XII mengawali perbincangan.
"Setiap kita berjibaku siang malam mengerjakan tugas tak kenal lelah, tapi apakah motivasi dibalik kerja keras tersebut? Menggapai Ridho ALLAH kah? Atau sejumput Rupiah tok sebagai konsekwensi dari predikat guru profesional?"

Saya tak menanggapi dengan kata-kata, hanya mencoba menyimak lebih dalam makna yang terdzohirkan dari jeritan jiwanya.

"Abdi inget kyai abdi.....", lanjutnya, "sangat sederhana, berpenampilan sederhana, memiliki kasab dari hasil bertani, tak ada transaksi "nyantri" harus bayar sekian untuk pondokan dan sekian untuk biaya studi, tak ada. Mengajar dengan methode yang sederhana, tapi amat kentara kesungguhannya dalam mentransfer ilmu. Nasihat sederhananya menghujam kuat dalam benak, materi pelajaran yang disampaikan tak mudah terlupakan karena beliau berbicara dari hatinya, dari kedalaman samudera ketulusan."

Kalimat-kalimat kang Nasyit diatas serasa detonator yang meledakkan ubun-ubun kesadaran saya betapa amanah dan tanggung-jawab diatas pundak seorang guru begitu berat.
Betapa tidak? Guru harus benar-benar memerankan dirinya sebagai guru, sosok yang digugu dan ditiru, di gugu ekuivalen dengan didengar dan disimak tutur kata, keterangan dan penjelasannya.
Ia adalah sosok yang mencintai ilmu pengetahuan dan bak kerlip cahaya lilin yang menyibak kegelapan, karena sejatinya seorang alim (isim faail dari `alima) adalah orang yang sadar akan perannya sebagai pengemban "Al-'ilmu nur".
Ya Robb, bukankah Sang Pencipta jagat raya ini menisbatkan diri-Nya dengan Nur dalam Al-Qur'an surat 24 ayat 35: ALLAHU NURUS-SAMAAWAATI WAL ARDHI?
Dengan demikian dia juga sebagai khalifatullah dalam memendarkan kesejahteraan batin, akal dan fisik anak didiknya, membawa mereka ke alam cahaya peradaban setelah terkungkung dalam gelapnya kepompong jahiliyah.

Sosok guru, juga sebagai warotsatul-anbiya (pewaris para nabi) yang ilmu, kata dan lakunya mencerminkan uswah para nabi, sehingga pantaslah atau lebih tepatnya sosok guru harus mematutkan diri untuk jadi figur yang pantas ditiru perbuatannya oleh murid-muridnya.
Bisakah???
Dapatkah nilai dan karakter ideal itu mewujud di alam realitas? Ditengah gegap-gempitanya pendewaan terhadap materi???
Ditengah badai dekadensi moral, serbuan pornografi, porno-aksi, korupsi dan maraknya tawuran???
Masih adakah harapan???

Harus!!!

PLPG diharapkan menjadi salah satu kawah cadra dimuka-nya para guru menuju nilai ideal tersebut.

Mungkinkah???

Semoga!!
Setidaknya menjadi satu langkah diantara derap langkah menuju cahaya ideal itu.

Jika tidak. Maka guru bukan lagi sosok yang digugu dan ditiru, tapi ditinju jika keliru. Na'udzu billah.

Ya Hafiidz........, Ya Hafiidz.........., ihfadzna!

Rabu, 19 Oktober 2011

Surat Terbuka Untuk Aa Fursan & Aa Yahya.

Assalaamu'alaiku wr. wb.

Semoga Allah senantiasa mengaruniakan Hidayah dan Kasih-Sayangnya Nya untuk kalian berdua, Allahumma amiin....!

Ananda sayang......., hari-hari dipesantren yang penuh dengan ketidak nyamanan dan cobaan hidup yang berat dapat abi rasakan. Tapi ketahuilah banyak orang menjadi besar dan sukses karena ujian dan cobaan semacam ini.

Emas, sejatinya menjadi perhiasan yang menawan dan dipajang di etalase toko-toko emas bergengsi dan diburu orang karena ia mengalami beberapa tahapan yang menyakitkan. Ia dibakar tak kenal ampun agar lunak kemudian ditoreh dengan pisau runcing yang tajam untuk membentuk ornamen hiasan yang indah, dipalu, dilekuk, disepuh, dicelup dalam cairan kimia, disikat, barulah ia bisa duduk di singggasana etalase untuk dinilai, dikagumi dan dibayar dengan harga yang mahal. Sebelum itupun, seringkali ia diuji lagi dengan digosok keras dan ditetesi air keras untuk menentukan keasliannya.
Inilah kawah candradimuka kehidupan, hanya mereka yang lulus ujian yang dapat merasakan betapa indahnya sebuah perjuangan dan berharganya makna pengorbanan, sehingga menghantarkannya menjadi hamba yang pandai bersyukur.

Ananda sayang............!
Berpindah sekolah adalah hal yang mudah, dan Allah selalu menyiapkan rizki meskipun tiada kita duga untuk keperluan tersebut. Tapi, sabarlah sejenak. Mari kita berpikir dengan jernih dibawah naungan tuntunan-Nya.

Ketika kita pindah dengan alasan yang tidak syar'i, ini berarti lari dari ujian seperti larinya nabi Yunus as dari tugas da'watullah karena dibenturkan dengan ujian; berupa hinaan, caci-maki dan penentangan keras dari kaumnya. Apakah Allah SWT membenarkan pelarian nabi kekasih-Nya itu?
Tidak! Ditengah perjalanan pelariannya itu, beliau as diberi pelajaran oleh PenciptaNya dengan dipenjara dalam perut ikan paus beberapa saat lamanya. Andaikata ia tidakbertaubat dan menyadari kekeliruannya, yakni tidak dapat bersabar dalam mengarungi samudera ujian sudah pasti tulang-belulangnya akan remuk digilas alat pencernaan ikan tersebut.

Wahai ananda renungilah doa nabi Yunus dalam ikan paus ketika beliau menyadari bahwa lari dari ujian dalam pandangan Allah adalah sebuah kedzoliman:
LAA ILAAHA ILLA ANTA , SUBHAANAKA INNI KUNTU MINADZ-DZOLIMIN (Tiada Ilaah selain Engkau Ya ALLAH! Maha Suci Engkau! Sesungguhnya aku termasuk golongan yang dzolim) - QS. 21: 87.

Wahai anada sayang..........!
Saya menyaksikan dalam salah satu tayangan TV "One" ketika pimpinan pesantren Wira Usaha "Abdurrahman bin Auf" menceritakan kisah hidupnya dimasa baru lulus SMA di kampung halamannya di Lampung, hampir saja ia memutuskan utuk tidak melanjutkan studi ketika seorang kaya di kampungnya menghina dirinya dan bapaknya pada saat mau pinjam uang untuk biaya kuliah di IPB.
"Huh! mau bayar dengan apa?! wong baru mau masuk saja sudah pinjam, apa kamu kira biaya kuliah tidak mahal?", cemoohnya.

Tidak ada kalimat jawaban. Semua kata-kata tersekat di kerongkongan. Hanya derasnya air mata yang mengalir tak tertahankan sebagai pertanda betapa teririsnya hati.
Sungguh yang mengoyak hati orang terdidik adalah hinaan yang dihujamkan oleh orang-orang dekat kita. Hinaan yang dianggapnya pantas kita terima karena dosa kemiskinan kita. Ya...., begitulah, prestasi kita dibonsai dan dibunuh karena kemiskinan kita.

Tapi.........., disaat kritis seperti itu, apa yang dikatakan oleh bapaknya?

"Wahai Jamil, kamu mau jadi kerang mutiara atau mau jadi kerang rebus?
Lihatlah kerang mutiara, setiap kali ia kemasukkan butir pasir, sakit terasa menggilas tubuh lunaknya yang lembut, setiap kali itu pula ia mengeluarkan air mata kepedihan. Begitulah, setiap kali ia mengerakan tubuh lunaknya semakin dirasakan sakitnya. Ia mengeluarkan cairan air mata yang lama kelamaan membalut pasir tersebut, begitu seterusnya cairan kepedihan itu terus membungkus pasir ujian itu hingga berubah menjadi bulatan kemilau yang disebut mutiara. Ya...., mutiara yang tumbuh dari pergulatan menghadapi kepedihan hidup. Akhirnya kerang mutiara itu dirawat dan dimulyakan oleh orang-orang di muka bumi ini. Dia hidup lebih lama dan bermakna.

Sekarang bandingkan dengan kerang biasa. Betul memang dia relatif hidup lebih nyaman tanpa perjuangan berarti dan nihil kepedihan. Tapi dia ditangkap orang kemudian direbus. Selesai. Hidupnya kurang bermakna dan tidak lama.

Wahai anakku Jamil! Putuskanlah, kamu mau jadi kerang mutiara atau mau jadi kerang rebus?"

Ananda Sayang...............!
Petiklah i'tibar (pelajaran) dari kisah ini, semoga Allah SWT meneguhkan hatimu untuk tetap bersabar dan istiqomah di jalan yang menurut sabda nabi saw: "Thoriqun ilal Jannah."

Senin, 17 Oktober 2011

Profil Umi Waheeda, Single Parent untuk Ribuan Santri


"Sekolah dengan sistem boarding school yang gratis? tanpa uang SPP, uang asrama, dana tambahan untuk keterampilan khusus? Dimana para peserta didiknya belajar tentang ilmu-ilmu agama dan umum serta pelatihan kewira-usahaan. Jenjang pendidikannya dari tingkat sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi? Dan semua itu benar-benar gratis tanpa dipungut biaya sepeserpun? Bahkan makan-minum seluruh santrinya ditanggung oleh pengelola? Adakah?
Pola asuh didalamnya tidak membedakan anak si kaya maupun si 'kismin'?
Benarkah mewujud dalam realitas?", tanya saya memberondong salah seorang mahasiswa yang baru saya kenal dalam pelayaran menuju Bakauhuni diatas kapal Ferry.

Dua tahun telah berlalu. Islamic Boarding School yang diceritakan oleh mahasiswa kenalan saya itu telah mengukuhkan eksistensinya sejak 14 Mei 1998 di Parung Bogor, tepatnya Jl. Nurul Iman No 01 RT 01 RW 01 Desa Waru Jaya Kecamatan Parung Kabupaten Bogor, dengan nama AL-ASHRIYYAH NURUL IMAN BOARDING SCHOOL, dengan jumlah santri dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi berkisar lima belas ribuan orang putera-puteri. Keheranan saya, tepatnya ketakjuban saya semakin menjadi-jadi. Pasalnya lembaga pendidikan sebesar itu dipimpin oleh seorang ibu single parent. Sapaan akrabnya Umi Waheeda yang memiliki 8 putera-puteri. Bagaimana tidak? untuk urusan makan saja, agar dapat mencukupi 15.000-an santri itu setiap harinya harus tersedia enam ton beras. Bayangkan saudara, enam ton beras per hari.

Subhanallah! Allah Maha Kaya, Maha Kreatif untuk memudahkan hamba yang dipilih Nya menjadi washilah mengalirnya rizki bagi sesama. Dan wanita itu seorang ibu single parent, semenjak "abah" suami tercintanya berpulang ke haribaan ALLAH pada hari Jum'at 12 November 2010 dengan meninggalkan pesan:
"Pondok Pesantren Nurul Iman harus tetap gratis sampai hari kiamat". Sejumput amanah yang nampak sederhana, berat, tapi mulya.

Siapakah Umi Waheeda?
Lahir di Singapura pada tanggal 14 Januari 1968 dari pasangan Safinah binti Abdurrahman dan bapak Abdurrahman bin Adnan. Anak pertama dari empat bersaudara. Bersama adik-adiknya Zakhina, Umar dan Sai binti Abdurrahman dibesarkan di kota modern I Queens Town-Singapura. Umi kecil sudah menampakkan anak luar biasa dengan prestasi yang membanggakan di setiap mata pelajaran, terutama olah raga dan bahasa Inggris. Beragam piala diraihnya dan beberapa kali sukses menjuarai olimpiade Fisika, tari melayu dan cabang olah raga lari.

Setamat dari Secondry school Umi melanjutkan ke Resent Girl School mengambil jurusan sastra Inggris dengan level Cambridge. Lulus, beliau memutuskan untuk menuntut ilmu agama di Darul Ulum International School di Surabaya. Bakat dan kecerdasan dibidang keagamaanpun tak bisa dinafikan, terbukti dengan kepiawaiannya melakukan transliterasi beberapa kitab kuning ke dalam bahasa Inggris.
Tanggal 5 Mei 1988 menikah dengan as-Syekh habib Saggaf di Singapura. Mendampingi sang suami dengan suka-duka berjuang memajukan dunia pendidikan Islamy di Indonesia. Jatuh cinta pada medan juang pendidikan di persada ini, akhirnya Umi memutuskan menjadi WNI di tahun 2001.

"Umi sangat mencintai ilmu", begitu kata Eti Rahmawati penulis biografi ini di artikel majalah Nurul Iman.
"sebab baginya tidak ada yang membuat manusia menjadi mulya selain iman dan ilmu", tambahnya.
Karena itu disela-sela kesibukannya, Umi masih menyempatkan diri kuliah untuk meraih gelar S3 di salah satu perguruan tinggi ternama.

Doa kami, doa para dhu'afa dan doa semua orang yang memiliki seberkas iman di hati: "Semoga Hidayah dan Kasih-Sayang ALLAH senantiasa menyertai setiap langkah anda untuk tetap istiqomah di jalan ini".
Amiin......, Ya Mujibas-Sailiin!

Jumat, 04 Desember 2009

Darmaji

Tanggal 2 Desember 2009 kemarin bu Romlah melaporkan kepada saya perihal kenakalan anak-anak yang melakukan Darmaji. Kalian tahu kan istilah darmaji???
Itu lho perilaku tak terpuji dengan berbondong-bondong menyerbu kantin/warung sekolah kemudian dengan kelincahan tangan melakukan: dahar lima ngaku hiji (makan lima ngaku satu).
Ups! Benar-benar memalukan, apa iya ada anak Madrasah yang nota bene hampir setiap hari mendengar taushiyah agama, masih juga ada yang gatel ngelakuin tindakan tidak terpuji model begini???
Ananda.........., siswa-siswi yang di kasihi ALLAH! Suatu ketika seorang sahabat bertanya kepada Rosulullah saw, "Ya Rosul, bisakah seorang muslim mencuri?".
Nabi saw menjawab, "Bisa (pada saat dia khilaf)."
"Ya Rosul, bisakah dia berzina?"
Jawab nabi saw, "Bisa (pada saat dia khilaf)."
Tentu saja prediket muslim yang melakukan dua dosa diatas adalah: Muslim yang Fasiq (durhaka).
Lalu sahabat tadi bertanya kepada nabi saw dengan pertanyaan yang ketiga, "Bisakah seorang muslim berdusta?"
Sementara nabi saw belum menjawab, langsung turunlah wahyu ALLAH SWT yang menjawabi pertanyaan yang ketiga ini:

"Sesungguhnya orang-orang yang melakukukan dusta adalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat ALLAH, dan mereka digolongkan sebagai para pendusta." (QS. 16 : 105).

Anak-anak yang baik......! Jika Imam Bukhari menyatakan: " Ada suatu hadits dikategorikan palsu, karena terdapat si Fulan sebagai pendusta", maka si Fulan yang disebut sebagai "pendusta" oleh Imam Bukhari tersebut sampai hari kiamat dia teruuuuuuuuuuuuuuuuusssssssss.......... berprediket sebagai pendusta. Nah lho! Bagaimana kalau yang memvonis sebagai pendusta adalah ALLAH SWT??? Ngerikan?!

Tidak main-main! Kita suka keliru dalam menimbang dosa, kebanyakan kita berfikir diantara ketiga dosa diatas: Berzina, mencuri dan dusta, yang paling ringan adalah dosa berdusta.
Tapi ternyata disisi ALLAH SWT sungguh dosa yang paling berat, iya kan?!! Coba deh kalian cermati, Dia memvonisnya sebagai: Orang yang tidak beriman kepada ayat ALLAH. Jika sudah demikian, pasti deh tempatnya di neraka abadan-abadan.
Jika dua dosa sebelumnya, para pelakunya disebut sebagai muslim yang fasiq, maka dosa berdusta pelakunya divonis sebagai: Muslim munafiq.
Nah bukankah hukuman bagi simunafiq adalah kerak neraka???






"Sesungguhnya orang-orang munafiq (dimasukkan) ke dalam neraka yang paling dasar, dan tidak ada pertolongan bagi mereka," (QS. 4 : 145).

Ya ALLAH.......! Bimbinglah kami untuk bisa menjauhi dusta.

Senin, 30 November 2009

PEMBELAJAR TANGGUH

PEMBELAJAR TANGGUH

Oleh: Abd. Endang Syaaban.


“Coba deh kalian jujur, dari hati kalian yang paling dalam pelajaran apakah yang paling sulit?”

Kata "kalian" yang dimaksud adalah sapaan yang ditujukan kepada enam anandanya dan para peserta didik tercinta di MTs Al-Khairiyah Pipitan, Walantaka, Kota Serang - Banten.

Jawabannya sudah bisa ditebak mayoritas anak yang ditanya akan menjawab matematika sebagai The Top Highest (peringkat pertama) sebagai bidang studi yang dianggap sulit. Padahal banyak para ahli yang menyatakan bahwa segala sesuatu pada asalnya adalah netral, kemudian lingkungan disekitar kitalah yang memberinya makna; Ini mudah, itu sulit, matematika itu pelajaran seram, kamu bodoh, dia setengah pintar dan si Fulan hebat. Ketika label-label ini disuntikkan terus-menerus ke batok kepala kita oleh banyak orang di hampir setiap kesempatan, maka lambat laun akan mengendap di alam bawah sadar kita, dan uniknya karakter bawah sadar ini tidak bisa membedakan antara ilusi dengan kenyataan. Coba deh kamu duduk rileks dan pejamkan mata, kemudian suruh seorang temanmu mengatakan dengan intonasi datar meyakinkan: ”Ditangan kiri saya ada sebuah mangga muda, nampak kulitnya begitu hijau dari pangkal bekas rantingnya masih menetes getahnya berwarna putih pekat, dan di tangan kanan saya ada sebilah pisau. Saya mengupas kulit mangga setahap-demi setahap, dari setiap bekas irisan pisau menetes getah mangga muda ini dan kelihatan jelas daging buahnya yang putih. Saya coba menggigit seiris kecil mangga muda ini, ou....., asamnya...........!”

Sekarang buka matamu dan rasakan air liur dimulutmu seolah-olah kamu sedang benar-benar makan mangga muda yang masam. Bukankah begitu? Ini membuktikan bahwa alam bawah sadar kita memang tidak bisa membedakan antara ilusi dengan kenyataan.

Nah, begitu pula dengan pernyataan yang dihujamkan terus-menerus ke pikiran kita bahwa matematika sulit, matematika sulit, akan benar-benar dipercaya oleh alam pikiran bawah sadar kita sehingga akhirnya kita tidak bisa bersahabat dengan pelajaran yang sebenarnya menyenangkan ini. Lho, masa iya matematika menyenangkan? Iyya! Ga’ percaya ya? Nanti deh kita bahas bahwa pelajaran ini memang menyenangkan.

Di buku The Heart of 7 Awareness karya Nanang Qosim Yusuf diceritakan sebuah ilustrasi menarik tentang pikiran bawah sadar yang terjajah oleh stigma (cap atau label negatif) sehingga yang bersangkutan dibunuh oleh pikirannya tersebut. Seorang ilmuwan melakukan eksperimen menarik dengan menggunakan ikan barakuda. Tahu kan ikan barakuda? Itu lho, ikan buas dengan gigi-gigi yang runcing seperti mata gergaji. Ikan barakuda ini dimasukkan kesebuah akuarium yang ruangannya telah dipisahkan dengan sekat kaca bening. Di sisi yang satu terdapat ikan barakuda dan disisi yang lainnya ruang kosong yang tentu saja tidak disadari oleh si barakuda ini. Nah, tepat pada jam-jam lapar dimasukkanlah ikan-ikan kecil sebagai makanan barakuda, dengan serta-merta barakuda menerkam santapannya, tentu saja yang dia terjang adalah dinding kaca sekat akuarium, dia coba berulang-ulang hasilnya tetap nihil. Besoknya seperti biasa pada jam-jam lapar dimasukkan ikan-ikan kecil sebagai santapan barakuda, dan kejadian seperti kemarin berulang kembali, sehingga sampai pada puncak rasa frustrasi barakuda, sekat kaca akuarium dilepas, lalu diamati. Hasilnya sangat mencengangkan, ikan barakuda tersebut tak lagi punya keberanian menerkam ikan-ikan kecil yang berseliweran disekitarnya, mungkin dia berfikir: ”kalau kuterkam aku bisa celaka sendiri seperti yang sudah-sudah.”

Akhirnya lambat-laun si barakuda mati kelaparan karena ”pikiran negatif” yang menjajah dirinya ini. Wah, bahayakan pikiran negatif itu?

Nah, seperti si barakuda sebenarnya kalian semua adalah pemburu ilmu yang tangguh. Tapi sayang........., telah sekian lama pikiran-pikiran kalian dicekoki oleh lingkungan disekitar kalian bahwa matematika itu sulit. Nuansa keangkeran matematika yang ”menakutkan” itu sangat terasa lagi pada saat-saat Ujian Nasional, para siswa/i disana-sini tidak bisa dipungkiri mendesahkan kekhawatiran kolektif bahwa batu sandungan ketidak lulusannya disebabkan oleh matematika.

Langkah awal yang harus kalian perbaiki adalah menata mind set, sebab seperti sebuah komputer pikiran-pikiran negatif ini seperti virus yang mengganggu program kerja Otak, karena itu kalian harus menginstall ulang apa yang mengendap dalam pikiran bawah sadar kalian. Bagaimana caranya???

Dengan Metode NEFT (NEGATIVE EMOTIONAL FREEDOM THERAPY) yang saya modifikasi dari buku 5 PRINCIPLES TO TURN YOUR DREAMS INTO REALITY karya Adi W. Gunawan dan Ariesandi Setyono.

Apa itu NEFT?

Teknik terapi emotional yang mirip dengan akupuntur (tusuk jarum), bedanya kalau akupuntur menggunakan jarum untuk men-stimulasi (merangsang) titik-titik energi yang tersebar di jalur meridian, sedangkan NEFT menggunakan jari untuk mengetuk titik-titik energi itu dengan jumlah ketukan dan urutan tertentu. Teknik ini sangat manjur untuk men-terapi hal-hal yang berhubungan dengan emosi negatif (mental block).

Langkahnya?

  1. Pilih waktu yang tepat, pada saat pikiran sedang rileks (ba`da Shubuh dan ba`da Ashar).

  2. Duduk santai sambil memejamkan mata, lalu visualkan perasaan senang – tidak senang terhadap pelajaran matematika dengan skala dari angka 1 sd 10.

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10


Semakin mengarah ke angka 0 berarti suasana hati semakin senang terhadap matematika.

Biarlah hati kamu yang menjawab ada pada angka berapa? Perlahan akan muncul angka tersebut, lalu jadikan dia sebagai tolok ukur.

3.

Mengucapkan afirmasi 3 x sambil menekan / mengurut titik sore Spot

(Perhatikan posisinya pada photo).



Cara menekan: dengan menyatukan jari telunjuk dengan jari tengah seperti akan menotok jalan darah, putar searah dengan jarum jam atau boleh juga berlawanan dengan jarum jam.

Contoh kalimat afirmasi: ”Ya Allah, meskipun saya tidak pede dengan matematika, tolonglah saya untuk membuang perasaan tidak pede dan semua hal yang berhubungan dengan rasa tidak pede dalam diri saya. Dan saya senang dengan matematika karena ini adalah ilmu karunia-Mu. Allohumma Aamiin…..!”

  1. Fokuskan pada kata kunci yang menggambarkan suasana emosi negatif yang hendak dihilangkan yaitu: tidak pede.


  1. Selanjutnya lakukan tapping (ketukan) sambil mengucapkan kata kunci: ”tidak pede”, menggunakan ujung dua jari (jari telunjuk dan jari tengah) 7 – 9 kali pada titik-titik berikut ini secara berurutan:

1. Pangkal alis mata (kiri atau kanan, pilih salah satu)

2. Tulang pelipis (kiri atau kanan, pilih salah satu).

3. Tulang dibawah mata (kiri atau kanan, pilih salah satu).

4. Dibawah hidung.

5. Dibawah dagu.

6. Dua cm dari titik tengah tulang selangka (kiri atau kanan, pilih salah satu).

7. Dibawah ketiak: 7 cm disamping tubuh (kiri atau kanan, pilih salah satu).


8. Ibu jari (kiri atau kanan).

9. Telunjuk (kiri atau kanan).

10. Jari tengah (kiri atau kanan).

11. Jari kelingking (kiri atau kanan).

12. Karate Chop (kiri atau kanan).


  1. Mahabbah Prosedur.

Lakukan sebagai berikut: Ketuk titik mahabbah tangan kiri terus-menerus (letak titik mahabbah + dua cm dibawah pangkal antara jari kelingking dengan jari manis), tanpa menyebut kalimat afirmasi, kepala tegak menatap ke depan, seraya:

  1. Pejamkan mata.

  2. Buka mata.

  3. Mata melirik ke kanan bawah, keras.

  4. Mata melirik ke kiri bawah keras.

  5. Putar mata searah jarum jam satu kali, dengan hidung sebagai poros.

  6. Putar mata berlawanan jarum jam satu kali, dengan hidung sebagai poros.

  7. Bergumam tiga detik ”ALHAMDULILLAAH” (mata menatap lurus ke depan).

  8. Hitung dengan cepat: 1,2,3,4,5.

  9. Bergumam tiga detik ”ALHAMDULILLAAH” (mata menatap lurus ke depan).


  1. Ulangi poin d dan e (dari nomor 1 – 12).

Setalah selesai, tanyakan pada diri sendiri:

  • Bagaimanakah perasaan saya saat ini? Sudah lebih nyaman atau masih tetap?

  • Apakah ada penurunan intensitas emosi?

  • Kalau masih ada sekarang turun ke skala berapa?


0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10


Bila jawaban yang muncul misalnya: ”Intensitas sudah berkurang, sekarang ada pada skala 5.”

Maka yang harus kamu lakukan adalah:

  • Mengulangi kegiatan diatas dari awal sampai akhir, namun kalimat afirmasi pada saat mengurut sore spot adalah: ”Meskipun masih tersisa perasaan tidak pede, tapi saya tetap menyenangi matematika.”

  • Kalimat afirmasi pada saat tapping adalah: ”Sisa tidak pede.”


Setelah selesai, periksa kembali intensitas emosi. Bila sudah turun sampai dengan skala dua atau satu, tidak usah mengulangi lagi dari awal. Cukup lakukan aktifitas berikut , agar intensitas emosi langsung turun ke angka 0 :

  • Wajah lurus ke depan, tidak boleh bergerak.

  • Ketuk titik mahabbah terus-menerus (tanpa menyebut kata afirmasi).

  • Hitung: satu, seraya mata menatap lantai.

  • Hitung: dua, pandangan mata mulai naik.

  • Hitung: tiga, pandangan mata semakin naik, lurus ke depan.

  • Hitung: empat, pandangan mata semakin naik.

  • Hitung: lima, pandangan mata sudah sangat naik.

  • Hitung: enam, mata menatap plafon (langit-langit).


Proses ini dapat diulang satu atau dua kali untuk menurunkan intensitas emosi negatif benar-benar ke angka 0. Kemudian tarik nafas panjang perlahan-lahan hembuskan, sambil memejamkan mata, bayangkan kamu ada disuatu tempat yang indah, dipadang rumput yang sejuk, sejuk sekali, dengan udara yang segar dan cuaca cerah. Tarik nafas panjang perlahan hingga memenuhi rongga dadamu, hembuskan kemudian ucapkanlah doa dengan khusyu` dari lubuk hatimu:


اللّهمّ لا سهلَ إلاّ ما جعلته سهلاً ، و أنتَ تجْعلُ الحـزْنَ إذا شِئـتَ سهلاً

Ya ALLAH, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau mudahkan,

Dan Engkau jadikan segala kesulitan itu mudah jika Engkau menghendaki.


الحــمد لله ربّ الـعــا لميــن



☺☺