PEMBELAJAR TANGGUH
Oleh: Abd. Endang Syaaban.
“Coba deh kalian jujur, dari hati kalian yang paling dalam pelajaran apakah yang paling sulit?”
Kata "kalian" yang dimaksud adalah sapaan yang ditujukan kepada enam anandanya dan para peserta didik tercinta di MTs Al-Khairiyah Pipitan, Walantaka, Kota Serang - Banten.
Jawabannya sudah bisa ditebak mayoritas anak yang ditanya akan menjawab matematika sebagai The Top Highest (peringkat pertama) sebagai bidang studi yang dianggap sulit. Padahal banyak para ahli yang menyatakan bahwa segala sesuatu pada asalnya adalah netral, kemudian lingkungan disekitar kitalah yang memberinya makna; Ini mudah, itu sulit, matematika itu pelajaran seram, kamu bodoh, dia setengah pintar dan si Fulan hebat. Ketika label-label ini disuntikkan terus-menerus ke batok kepala kita oleh banyak orang di hampir setiap kesempatan, maka lambat laun akan mengendap di alam bawah sadar kita, dan uniknya karakter bawah sadar ini tidak bisa membedakan antara ilusi dengan kenyataan. Coba deh kamu duduk rileks dan pejamkan mata, kemudian suruh seorang temanmu mengatakan dengan intonasi datar meyakinkan: ”Ditangan kiri saya ada sebuah mangga muda, nampak kulitnya begitu hijau dari pangkal bekas rantingnya masih menetes getahnya berwarna putih pekat, dan di tangan kanan saya ada sebilah pisau. Saya mengupas kulit mangga setahap-demi setahap, dari setiap bekas irisan pisau menetes getah mangga muda ini dan kelihatan jelas daging buahnya yang putih. Saya coba menggigit seiris kecil mangga muda ini, ou....., asamnya...........!”
Sekarang buka matamu dan rasakan air liur dimulutmu seolah-olah kamu sedang benar-benar makan mangga muda yang masam. Bukankah begitu? Ini membuktikan bahwa alam bawah sadar kita memang tidak bisa membedakan antara ilusi dengan kenyataan.
Nah, begitu pula dengan pernyataan yang dihujamkan terus-menerus ke pikiran kita bahwa matematika sulit, matematika sulit, akan benar-benar dipercaya oleh alam pikiran bawah sadar kita sehingga akhirnya kita tidak bisa bersahabat dengan pelajaran yang sebenarnya menyenangkan ini. Lho, masa iya matematika menyenangkan? Iyya! Ga’ percaya ya? Nanti deh kita bahas bahwa pelajaran ini memang menyenangkan.
Di buku The Heart of 7 Awareness karya Nanang Qosim Yusuf diceritakan sebuah ilustrasi menarik tentang pikiran bawah sadar yang terjajah oleh stigma (cap atau label negatif) sehingga yang bersangkutan dibunuh oleh pikirannya tersebut. Seorang ilmuwan melakukan eksperimen menarik dengan menggunakan ikan barakuda. Tahu kan ikan barakuda? Itu lho, ikan buas dengan gigi-gigi yang runcing seperti mata gergaji. Ikan barakuda ini dimasukkan kesebuah akuarium yang ruangannya telah dipisahkan dengan sekat kaca bening. Di sisi yang satu terdapat ikan barakuda dan disisi yang lainnya ruang kosong yang tentu saja tidak disadari oleh si barakuda ini. Nah, tepat pada jam-jam lapar dimasukkanlah ikan-ikan kecil sebagai makanan barakuda, dengan serta-merta barakuda menerkam santapannya, tentu saja yang dia terjang adalah dinding kaca sekat akuarium, dia coba berulang-ulang hasilnya tetap nihil. Besoknya seperti biasa pada jam-jam lapar dimasukkan ikan-ikan kecil sebagai santapan barakuda, dan kejadian seperti kemarin berulang kembali, sehingga sampai pada puncak rasa frustrasi barakuda, sekat kaca akuarium dilepas, lalu diamati. Hasilnya sangat mencengangkan, ikan barakuda tersebut tak lagi punya keberanian menerkam ikan-ikan kecil yang berseliweran disekitarnya, mungkin dia berfikir: ”kalau kuterkam aku bisa celaka sendiri seperti yang sudah-sudah.”
Akhirnya lambat-laun si barakuda mati kelaparan karena ”pikiran negatif” yang menjajah dirinya ini. Wah, bahayakan pikiran negatif itu?
Nah, seperti si barakuda sebenarnya kalian semua adalah pemburu ilmu yang tangguh. Tapi sayang........., telah sekian lama pikiran-pikiran kalian dicekoki oleh lingkungan disekitar kalian bahwa matematika itu sulit. Nuansa keangkeran matematika yang ”menakutkan” itu sangat terasa lagi pada saat-saat Ujian Nasional, para siswa/i disana-sini tidak bisa dipungkiri mendesahkan kekhawatiran kolektif bahwa batu sandungan ketidak lulusannya disebabkan oleh matematika.
Langkah awal yang harus kalian perbaiki adalah menata mind set, sebab seperti sebuah komputer pikiran-pikiran negatif ini seperti virus yang mengganggu program kerja Otak, karena itu kalian harus menginstall ulang apa yang mengendap dalam pikiran bawah sadar kalian. Bagaimana caranya???
Dengan Metode NEFT (NEGATIVE EMOTIONAL FREEDOM THERAPY) yang saya modifikasi dari buku 5 PRINCIPLES TO TURN YOUR DREAMS INTO REALITY karya Adi W. Gunawan dan Ariesandi Setyono.
Apa itu NEFT?
Teknik terapi emotional yang mirip dengan akupuntur (tusuk jarum), bedanya kalau akupuntur menggunakan jarum untuk men-stimulasi (merangsang) titik-titik energi yang tersebar di jalur meridian, sedangkan NEFT menggunakan jari untuk mengetuk titik-titik energi itu dengan jumlah ketukan dan urutan tertentu. Teknik ini sangat manjur untuk men-terapi hal-hal yang berhubungan dengan emosi negatif (mental block).
Langkahnya?
Pilih waktu yang tepat, pada saat pikiran sedang rileks (ba`da Shubuh dan ba`da Ashar).
Duduk santai sambil memejamkan mata, lalu visualkan perasaan senang – tidak senang terhadap pelajaran matematika dengan skala dari angka 1 sd 10.
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Semakin mengarah ke angka 0 berarti suasana hati semakin senang terhadap matematika.
Biarlah hati kamu yang menjawab ada pada angka berapa? Perlahan akan muncul angka tersebut, lalu jadikan dia sebagai tolok ukur.
3.
Mengucapkan afirmasi 3 x sambil menekan / mengurut titik sore Spot
(Perhatikan posisinya pada photo).
Cara menekan: dengan menyatukan jari telunjuk dengan jari tengah seperti akan menotok jalan darah, putar searah dengan jarum jam atau boleh juga berlawanan dengan jarum jam.
Contoh kalimat afirmasi: ”Ya Allah, meskipun saya tidak pede dengan matematika, tolonglah saya untuk membuang perasaan tidak pede dan semua hal yang berhubungan dengan rasa tidak pede dalam diri saya. Dan saya senang dengan matematika karena ini adalah ilmu karunia-Mu. Allohumma Aamiin…..!”
Fokuskan pada kata kunci yang menggambarkan suasana emosi negatif yang hendak dihilangkan yaitu: tidak pede.
Selanjutnya lakukan tapping (ketukan) sambil mengucapkan kata kunci: ”tidak pede”, menggunakan ujung dua jari (jari telunjuk dan jari tengah) 7 – 9 kali pada titik-titik berikut ini secara berurutan:
1. Pangkal alis mata (kiri atau kanan, pilih salah satu)
2. Tulang pelipis (kiri atau kanan, pilih salah satu).
3. Tulang dibawah mata (kiri atau kanan, pilih salah satu).
4. Dibawah hidung.
5. Dibawah dagu.
6. Dua cm dari titik tengah tulang selangka (kiri atau kanan, pilih salah satu).
7. Dibawah ketiak: 7 cm disamping tubuh (kiri atau kanan, pilih salah satu).
8. Ibu jari (kiri atau kanan).
9. Telunjuk (kiri atau kanan).
10. Jari tengah (kiri atau kanan).
11. Jari kelingking (kiri atau kanan).
12. Karate Chop (kiri atau kanan).
Mahabbah Prosedur.
Lakukan sebagai berikut: Ketuk titik mahabbah tangan kiri terus-menerus (letak titik mahabbah + dua cm dibawah pangkal antara jari kelingking dengan jari manis), tanpa menyebut kalimat afirmasi, kepala tegak menatap ke depan, seraya:
Pejamkan mata.
Buka mata.
Mata melirik ke kanan bawah, keras.
Mata melirik ke kiri bawah keras.
Putar mata searah jarum jam satu kali, dengan hidung sebagai poros.
Putar mata berlawanan jarum jam satu kali, dengan hidung sebagai poros.
Bergumam tiga detik ”ALHAMDULILLAAH” (mata menatap lurus ke depan).
Hitung dengan cepat: 1,2,3,4,5.
Bergumam tiga detik ”ALHAMDULILLAAH” (mata menatap lurus ke depan).
Ulangi poin d dan e (dari nomor 1 – 12).
Setalah selesai, tanyakan pada diri sendiri:
Bagaimanakah perasaan saya saat ini? Sudah lebih nyaman atau masih tetap?
Apakah ada penurunan intensitas emosi?
Kalau masih ada sekarang turun ke skala berapa?
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Bila jawaban yang muncul misalnya: ”Intensitas sudah berkurang, sekarang ada pada skala 5.”
Maka yang harus kamu lakukan adalah:
Mengulangi kegiatan diatas dari awal sampai akhir, namun kalimat afirmasi pada saat mengurut sore spot adalah: ”Meskipun masih tersisa perasaan tidak pede, tapi saya tetap menyenangi matematika.”
Kalimat afirmasi pada saat tapping adalah: ”Sisa tidak pede.”
Setelah selesai, periksa kembali intensitas emosi. Bila sudah turun sampai dengan skala dua atau satu, tidak usah mengulangi lagi dari awal. Cukup lakukan aktifitas berikut , agar intensitas emosi langsung turun ke angka 0 :
Wajah lurus ke depan, tidak boleh bergerak.
Ketuk titik mahabbah terus-menerus (tanpa menyebut kata afirmasi).
Hitung: satu, seraya mata menatap lantai.
Hitung: dua, pandangan mata mulai naik.
Hitung: tiga, pandangan mata semakin naik, lurus ke depan.
Hitung: empat, pandangan mata semakin naik.
Hitung: lima, pandangan mata sudah sangat naik.
Hitung: enam, mata menatap plafon (langit-langit).
Proses ini dapat diulang satu atau dua kali untuk menurunkan intensitas emosi negatif benar-benar ke angka 0. Kemudian tarik nafas panjang perlahan-lahan hembuskan, sambil memejamkan mata, bayangkan kamu ada disuatu tempat yang indah, dipadang rumput yang sejuk, sejuk sekali, dengan udara yang segar dan cuaca cerah. Tarik nafas panjang perlahan hingga memenuhi rongga dadamu, hembuskan kemudian ucapkanlah doa dengan khusyu` dari lubuk hatimu:
اللّهمّ لا سهلَ إلاّ ما جعلته سهلاً ، و أنتَ تجْعلُ الحـزْنَ إذا شِئـتَ سهلاً
Ya ALLAH, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau mudahkan,
Dan Engkau jadikan segala kesulitan itu mudah jika Engkau menghendaki.
الحــمد لله ربّ الـعــا لميــن
☺☺


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar Pembaca