Minggu, 20 November 2011


MUTIARA DI CANGKANG KERANG PLPG

Entah kenapa? pagi itu 15 Nopember 2011 di taman wisma Kinasih seusai sarapan pagi, tiba-tiba saya menjadi "cengeng". Saya benar-benar tak kuasa menahan air mata. Ada asa yang menyelinap diam-diam di kedalaman lubuk hati, semoga ini adalah air mata yang dapat memadamkan jilatan api neraka karena Yang Maha Menatap Ridho atasnya. Bukan air mata buaya yang mengalir karena sejumput kepentingan dunia.
"Saya tidak takjub kepada seseorang yang sukses dalam karir duniawi, sementara mereka melupakan akhiratnya", demikian kang Nasyit, "Primus" kami yang dipercaya jadi km kelas matematika PLPG angkatan XII mengawali perbincangan.
"Setiap kita berjibaku siang malam mengerjakan tugas tak kenal lelah, tapi apakah motivasi dibalik kerja keras tersebut? Menggapai Ridho ALLAH kah? Atau sejumput Rupiah tok sebagai konsekwensi dari predikat guru profesional?"

Saya tak menanggapi dengan kata-kata, hanya mencoba menyimak lebih dalam makna yang terdzohirkan dari jeritan jiwanya.

"Abdi inget kyai abdi.....", lanjutnya, "sangat sederhana, berpenampilan sederhana, memiliki kasab dari hasil bertani, tak ada transaksi "nyantri" harus bayar sekian untuk pondokan dan sekian untuk biaya studi, tak ada. Mengajar dengan methode yang sederhana, tapi amat kentara kesungguhannya dalam mentransfer ilmu. Nasihat sederhananya menghujam kuat dalam benak, materi pelajaran yang disampaikan tak mudah terlupakan karena beliau berbicara dari hatinya, dari kedalaman samudera ketulusan."

Kalimat-kalimat kang Nasyit diatas serasa detonator yang meledakkan ubun-ubun kesadaran saya betapa amanah dan tanggung-jawab diatas pundak seorang guru begitu berat.
Betapa tidak? Guru harus benar-benar memerankan dirinya sebagai guru, sosok yang digugu dan ditiru, di gugu ekuivalen dengan didengar dan disimak tutur kata, keterangan dan penjelasannya.
Ia adalah sosok yang mencintai ilmu pengetahuan dan bak kerlip cahaya lilin yang menyibak kegelapan, karena sejatinya seorang alim (isim faail dari `alima) adalah orang yang sadar akan perannya sebagai pengemban "Al-'ilmu nur".
Ya Robb, bukankah Sang Pencipta jagat raya ini menisbatkan diri-Nya dengan Nur dalam Al-Qur'an surat 24 ayat 35: ALLAHU NURUS-SAMAAWAATI WAL ARDHI?
Dengan demikian dia juga sebagai khalifatullah dalam memendarkan kesejahteraan batin, akal dan fisik anak didiknya, membawa mereka ke alam cahaya peradaban setelah terkungkung dalam gelapnya kepompong jahiliyah.

Sosok guru, juga sebagai warotsatul-anbiya (pewaris para nabi) yang ilmu, kata dan lakunya mencerminkan uswah para nabi, sehingga pantaslah atau lebih tepatnya sosok guru harus mematutkan diri untuk jadi figur yang pantas ditiru perbuatannya oleh murid-muridnya.
Bisakah???
Dapatkah nilai dan karakter ideal itu mewujud di alam realitas? Ditengah gegap-gempitanya pendewaan terhadap materi???
Ditengah badai dekadensi moral, serbuan pornografi, porno-aksi, korupsi dan maraknya tawuran???
Masih adakah harapan???

Harus!!!

PLPG diharapkan menjadi salah satu kawah cadra dimuka-nya para guru menuju nilai ideal tersebut.

Mungkinkah???

Semoga!!
Setidaknya menjadi satu langkah diantara derap langkah menuju cahaya ideal itu.

Jika tidak. Maka guru bukan lagi sosok yang digugu dan ditiru, tapi ditinju jika keliru. Na'udzu billah.

Ya Hafiidz........, Ya Hafiidz.........., ihfadzna!

Tidak ada komentar: